Indrani bloger











Sebuah trojan baru kembali muncul. Kali ini ia menyerupakan diri dengan pesan anti pembajakan dan aktivasi ulang hingga akhirnya mencapai tujuannya, mendapat informasi kartu kredit.

Menurut data yang dihimpun oleh perusahaan keamanan komputer, Symantec, trojan baru yang bernama Trojan.Kardphiser ini membuat kembaran screen Windows dengan pesan berjudul ‘Microsoft piracy control’. Setelah itu, trojan ini menginformasikan pada pengguna bahwa salinan Windows mereka telah diaktivasi oleh pengguna lain sehingga harus diaktiavsi ulang.

Instruksi yang diberikan diantaranya berbunyi “To help reduce software piracy, please reactivate your copy of Windows now. You must activate Windows before you can continue to use it.”

Pengguna hanya memiliki 1 kemungkinan. Melakukan aktivasi ulang melalui Internet sesegera mungkin atau dikemudian waktu. Jangan harap dapat menutupnya, karena tak ada satupun aplikasi yang dapat dijalankan. Fitur Task Manager juga tak dapat diandalkan untuk menutup paksa sang Trojan.

Apa yang terjadi jika aktivasi ditunda? Sistem akan mati secara otomatis. Dan jika pengguna melakukan aktivasi ulang yang palsu, maka akan muncul layar bertuliskan permintaan informasi pribadi termasuk nomor kartu kredit, lokasi dan bahkan PIN ATM.

Informasi tersebut kemudian tanpa sepengetahuan pemilik, akan terkirim kepada si pelaku kejahatan.

Symantec, dikutip detikINET dari NewsFactor, Rabu (9/5/2007) menyatakan Trojan varian tersebut menginfeksi Windows XP, Windows 2000, Windows Server 2003 dan bahkan seri Windows lama seperti 95, 08 dan NT.

Symantec juga sedang merilis cara untuk menghapus trojan ini, sementara itu beberapa peneliti menyarankan untuk memasukkan informasi palsu kedalam form ‘aktivasi’.

Windows memang terkadang membutuhkan aktivasi ulang jika terjadi perubahan penting seperti upgrade hardware. Namun yang terpenting adalah Windows tidak pernah meminta pengisian tentang informasi keuangan pengguna.

“Trojan ini mengajari kita satu hal, jangan percayai siapapun,” ujar Takashi Katsuki dari Symantec yang ditulis dalam blog perusahaan. (detik net)

Advertisements


{May 7, 2007}   AskesKIN, nasibmu kini

AskesKIN, nasibmu kiniTangis ibu-ibu pendemo itu pecah di halaman Kantor Badan Pemeriksa Keuangan, pekan silam, manakala mempertanyakan nasib mereka. Mengapa dana asuransi kesehatan senilai Rp 7,6 triliun tak pernah bisa mereka nikmati? Ibu-ibu itu hanyalah bagian kecil dari 60 juta lebih warga miskin yang semestinya berhak memperoleh jaminan kesehatan. Jaminan yang memang dianggarkan pemerintah dengan program Askeskin atau Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin.

Dan sejak dua tahun silam sudah ada Rp 7,6 triliun uang negara dianggarkan untuk itu. Sayangnya, program tersebut dinilai bocor di sana sini. Lantaran itulah, warga miskin ini meminta BPK mengaudit penggunaan dana Askeskin itu seterang-terangnya.

Hasil penelusuran tim Sigi SCTV menunjukkan, di lapangan memang terjadi berbagai ketidakberesan dalam pelayanan Askeskin. Berbagai keluhan pun muncul ke permukaan. Mulai dari adanya praktik percaloan, jual beli kartu Askeskin, lamanya mengurus surat hingga masih adanya pasien Askeskin atau keluarga miskin yang diminta membayar obat atau tindakan medis oleh sejumlah rumah sakit.

Penolakan seperti itulah yang harus dialami Fatulloh. Kakek berusia 70 tahun dengan tumor di kaki itu terpaksa gigit jari ketika dirinya berharap mendapat pengobatan segera. Padahal, ia sudah membekali diri dengan surat keterangan tidak mampu dan persyaratan administratif lainnya. Mestinya, dengan berbekal surat miskin dan syarat administratif lainnya itu, Fatulloh dijamin mendapat pengobatan gratis melalui program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat yang ditelurkan Departemen Kesehatan pada tahun 2005, bahkan dicanangkan sejak 2000 [baca: Pelayanan Kesehatan Masyarakat Akan Ditingkatkan].

Berdasarkan penelusuran tim Sigi di beberapa rumah sakit di Jakarta dan Bandung, ternyata si miskin tak sepenuhnya bisa menikmati program yang dikenal dengan nama Askeskin ini. Tengoklah keadaan seorang pasien di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat. Sudah dua pekan, Nyonya Saeni terbaring di ruang perawatan kelas tiga di rumah sakit tersebut. Bangsal ini memang sengaja disediakan pihak rumah sakit untuk merawat pasien tidak mampu. Berasal dari Karawang, Jawa Barat, suami Saeni, Mulyadi, adalah korban pemutusan hubungan kerja. Ia tak sanggup membiayai pengobatan istrinya.

Berbekal surat keterangan tidak mampu, Mulyadi mengalami perlakuan cukup baik dan tidak dipungut biaya. Mulai dari pendaftaran, perawatan hingga istrinya masuk bangsal. Belakangan, dokter rumah sakit memberikan beberapa resep di luar jaminan PT Asuransi Kesehatan (Askes). Walaupun koceknya tipis, Mulyadi terpaksa membeli resep itu di apotek rumah sakit.

Kisah serupa dialami pasien penderita thalassemia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat. Di rumah sakit pelat merah itu, ternyata masih ada obat-obat tertentu yang harus dibayar oleh pasien tidak mampu.

Diluncurkan dua tahun silam, program Askeskin disambut gembira kaum miskin yang berharap mendapat pengobatan gratis. Sesuatu yang selama ini hanya impian belaka. Ketika itu Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari berharap semua pasien miskin tak memperoleh kesulitan manakala berurusan dengan pihak rumah sakit [baca: Pembagian Kartu Askes untuk Warga Miskin].

Dua tahun kemudian para pasien miskin mulai memenuhi antrean di rumah sakit untuk dilayani lewat program Askeskin. Bagi sebagian besar warga miskin, Askeskin bak kartu sakti untuk lepas dari kesengsaraan dan mendapatkan pelayanan gratis.

Saking saktinya kartu ini, mereka yang tadinya mampu berupaya mendapatkan dengan berbagai cara. Jadilah bukan hanya si miskin yang menikmati pelayanan gratis di rumah sakit. Orang yang bukan tergolong miskin boleh jadi turut merasakannya.

Salah satunya adalah Aminudin. Sudah lima bulan, Aminudin terbaring di ruangan perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Masuk rumah sakit pada 12 Januari silam, Aminudin merupakan pasien rujukan dari RS Al-Islam, Bandung. Pertama kali masuk, lelaki itu tercatat sebagai pasien non-Askes dan terdaftar di kelas satu.

Setelah tiga bulan dirawat, biaya pengobatan yang harus dikeluarkan pihak keluarganya mencapai 70 juta rupiah. Aminudin yang mengalami trauma di kepala dan kesulitan bernapas, juga tak bisa dipastikan waktunya bisa keluar dari ruang perawatan intensif.

Dengan berbagai kondisi itu, tiba-tiba saja pada 7 Maret silam, status Aminudin berubah dari pasien umum non-Askes kelas satu menjadi pasien Askeskin. Perubahan seperti sulap ini dibuktikan dengan lengkapnya persyaratan administratif yang menyatakan Aminudin merupakan pasien miskin. Nah, sejak saat itulah, laki-laki itu berhak mendapatkan pengobatan gratis di RS Hasan Sadikin.

Tim Sigi pun mencoba menelusuri jejak rumah Aminudin. Terletak di pinggiran kawasan perumahan terkenal di Bandung, sekilas pandang memang tak ada tanda-tanda bahwa pasien tersebut masuk kategori miskin dan berhak mendapatkan Askeskin. Terlebih, pihak keluarga juga tertutup dan enggan menjawab sejumlah pertanyaan seputar pekerjaan Aminudin. Yang terang, di kolom pekerjaan kartu tanda penduduk yang baru dibuat Maret silam, tertulis buruh harian lepas sebagai pekerjaan Aminudin.

Fasilitas seperti yang didapat Aminudin itu mungkin tak terbayangkan oleh Kohir. Setiap hari, Kohir mengumpulkan sampah di bekas Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Ayah tujuh anak yang sekarang berusia 56 tahun itu sudah sejak tahun 80-an jadi pemulung.

Ayah Kohir yang kini berumur hampir 70 tahun sudah tujuh tahun menderita sakit. Selama itu pula, kakek renta ini hanya dirawat di rumah dengan obat seadanya. Berkali-kali petugas pusat kesehatan masyarakat atau puskesmas meminta agar sang pasien dibawa ke rumah sakit. Hanya saja, dengan penghasilan sebesar lima ribu rupiah per hari, Kohir tak sanggup membiayai perawatan sang ayah. Ingar bingar Askeskin dan pengobatan gratis bagi kaum miskin sama sekali tak pernah didengar sang pemulung itu.

Ada pasien miskin yang tak mendapat pelayanan, sementara ada pasien mampu yang justru mendapat kartu Askeskin. Kontras itu diakui menjadi salah satu bentuk penyimpangan dalam program Askeskin. Proses verifikasi peserta yang tidak sempurna diduga kuat menjadi penyebabnya.

Boleh dikatakan, banyak kaum miskin di Tanah Air yang justru tak mendapat pelayanan Askeskin lantaran minimnya informasi. Persoalan lainnya adalah masyarakat miskin enggan mengurus kartu tanda penduduk dan kartu keluarga. Mereka merasa berat dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat dua kartu kependudukan tersebut. Padahal, dua kartu pengenal identitas diri itu penting buat mendapatkan surat keterangan tidak mampu yang bisa dipakai untuk memperoleh pengobatan gratis.

Sementara untuk mendapatkan surat keterangan tidak mampu (SKTM), ternyata harus melalui birokrasi yang berbelit-belit. Mulai dari tingkat rukun tetangga, rukun warga, kelurahan, puskesmas hingga ke Dinas Kesehatan setempat. Setelah proses panjang itu dilewati, barulah si pasien pemegang kartu Askeskin bisa berebut antrean dengan ribuan pasien miskin lain di rumah sakit.

Ibu Een, umpamanya. Tim Sigi mengikuti wanita itu ketika mengurus SKTM agar bisa mendapat pengobatan gratis tumor mata yang dideritanya. Terkadang, ia harus mendapat pelayanan ketus dari petugas. Di sebuah puskesmas, ia bahkan dipungut biaya administrasi dua ribu rupiah. Dan anehnya, tanpa selembar kuitansi pun dari petugas.

Untuk bisa sampai ke rumah sakit dengan kartu berobat bagi warga miskin seperti Ibu Een paling tidak memerlukan waktu dua hingga tiga hari. Ini belum termasuk antrean panjang dan kemungkinan dirujuk ke rumah sakit lain oleh petugas di rumah sakit pertama.

Ratusan pasien miskin, setiap hari menyesaki loket pelayanan kesehatan khusus Askeskin. Pemerintah membayarkan iuran penduduk miskin sebesar lima ribu rupiah tiap orang per bulan kepada PT Askes. Total pendanaan untuk tahun 2005 sebesar Rp 2,2 triliun. Ini jumlah dana pelayanan untuk 36 juta penduduk miskin. Angka ini kemudian bertambah di tahun berikutnya menjadi Rp 3,6 triliun dengan jumlah penduduk miskin naik menjadi 60 juta jiwa.

Di RS Hasan Sadikin, Bandung, sebanyak 95 persen pasien kelas tiga merupakan peserta Askeskin. Total pelayanan untuk pasien miskin di rumah sakit nasional ini mencapai 35 persen. Dengan nilai tagihan ke PT Askes antara tiga hingga tiga setengah miliar rupiah setiap bulan.

Di sebuah tempat di rumah sakit itu tampak tumpukan kardus. Kardus-kardus ini berisi tagihan klaim pelayanan Askeskin di RS Hasan Sadikin kepada PT Askes cabang Bandung. Tagihan obat dan pelayanan untuk Januari 2007 itu baru tiba di Kantor Askes pada 2 Mei silam. Kelambanan ini membuat pihak Askes jadi terlambat membayar klaim kepada pihak rumah sakit. Jumlahnya hingga bulan ini mencapai belasan miliar rupiah.

Adanya keterlambatan pembayaran klaim oleh PT Askes kepada pihak rumah sakit, menurut Marius Widjajarta dari Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan (YPKK) bisa berdampak kepada kondisi keuangan rumah sakit yang kian lemah. Ujung-ujungnya, pelayanan kepada si miskin bertambah buruk.

Di tengah perdebatan siapa salah siapa benar, jutaan warga miskin terus berdoa agar pelayanan kesehatan gratis bagi mereka kian ditingkatkan. Berbagai kalangan pun berharap, apa pun mekanisme pelayanan kesehatan kepada kaum miskin, tetap harus mengacu pada kepentingan mereka. Dan bukan untuk tujuan praktis kelompok tertentu, terlebih menjadi bancakan kepentingan bisnis semata.(ANS/Tim Sigi SCTV)



{April 27, 2007}   Scammer di email

“Bayar atau mati!”, demikian bunyi ancaman yang marak beredar di inbox pengguna e-mail. Scammer, menurut PC Advisor, saat ini tengah mencoba mencari mangsa dengan mengirimkan e-mail berisi pesan ancaman ke pengguna Internet. Korban diminta memberikan uang sejumlah US$ 30.000 jika ingin tetap hidup, demikian isi ancaman tersebut.

Softpedia yang dikutip detikINET, Jumat (27/4/2007) melansir, pesan tersebut bisa jadi berbahaya dan membuat penerimanya bergidik karena dikirim dari account e-mail terpercaya via hosting Gmail, Yahoo dan Hotmail.

“Saya sudah mengikuti Anda selama satu minggu lima hari. Jangan coba-coba menghubungi polisi ataupun mengirim salinan ini kepada mereka. Jika Anda melakukannya, terpaksa saya melakukan tugas saya (membunuh – red.) karena saya sudah dibayar untuk itu,” demikian bunyi pesan lainnya.

Meski hanya spam, sebanyak 115 orang pengguna e-mail tak dipungkiri diliputi rasa cemas dan telah melapor ke FBI. Disinyalir saat ini hampir 1.000 e-mail telah terkirim di Internet. Diklaim pihak berwenang, sampai sejauh ini belum ada korban yang terjebak ancaman tersebut

(Detik net)



{April 25, 2007}   Anjing Kintamani

Anjing KintamaniANJING kintamani yang notabene adalah anjing asli Bali sulit ditentukan jumlahnya karena tidak ada satu pun pihak yang meregistrasinya. Nasib anjing kintamani tidak bisa dikatakan secerah anjing ras lainnya yang dipelihara dan dirawat dengan telaten dan “mahal”.

Selama ini, yang menjadi pertanyaan besar adalah seberapa banyak anjing kintamani yang masih murni? Banyaknya anjing-anjing kintamani yang berkeliaran di jalanan di Bali dikhawatirkan bukan lagi keturunan asli anjing kintamani karena ada kemungkinan sudah bercampur dengan anjing jenis lainnya.

Seiring dengan semakin tidak jelasnya kemurnian keturunan anjing kintamani, anjing kintamani juga menjadi tidak jelas statusnya, apakah dia termasuk anjing ras atau bukan.

Menurut pakar anjing kintamani, Pudji Rahardjo MS, syarat untuk mendapat pengakuan anjing kintamani sebagai anjing ras dari Federation Cynologique Internationale (FCI), badan pembuat daftar anjing-anjing ras di dunia, adalah satu ras anjing harus berdasarkan kemurnian hingga generasi ke-15.

Padahal, di Bali, anjing kintamani yang murni baru sampai pada generasi ke-8. Meskipun demikian, anjing kintamani sudah diakui secara nasional oleh Persatuan Kinologi Indonesia (Perkin) sejak tahun 1992 pada saat Kontes dan Pameran Anjing Bali ke-6 di Denpasar, Bali.

Upaya untuk menjaga kemurnian keturunan asli anjing kintamani yang selama ini dilakukan, dengan membuat suatu tempat penangkaran atau pemuliabiakan (kennel). Sementara ini, baru ada lima kennel di Bali. Masing-masing kennel sedang mengembangbiakkan tiga anjing kintamani asli untuk kemudian dijual.

Sampai dengan tahun 1980 keberadaan anjing Bali tidak mendapat perhatian termasuk anjing Kintamani. Beberapa pihak yang peduli terhadap anjing Kintamani berjuang agar anjing Kintamani menjadi anjing ras Indonesia. Dalam mewujudkan hal itu tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan.

berwarna putih. Hidung berwarna hitam atau coklat tua dan warna hidung ini sering berubah karena penambahan umur dan musim.

Untuk mempercepat pengakuan dari Federation Cynologique Internationale, dalam memenuhi ketentuan/persyaratan perlu upaya-upaya secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu upaya adalah meneliti hubungan antara stuktur dan profil DNA distribusi warna bulu putih spesifik secara genotip dengan fenotip warna bulu putih spesifik pada Anjing Kintamani.

Distribusi warna bulu pada Anjing Kintamani dapat dikelompokkan menjadi 4 macam yaitu:

1. Warna bulu putih sedikit kemerahan dengan warna coklat-kemerahan pada telinga, bulu di bagian belakang paha dan ujung ekornya.

2. Warna hitam mulus atau dengan dada putih sedikit.

3. Warna coklat muda atau cokiat tua dengan ujung moncong kehitaman, sering disebut oleh masyarakat sebagai warna Bang-bungkem.

4. Warna dasar coklat atau coklat muda dengan garis-garis warna kehitaman, yang oleh masyarakat disebut warna Poleng atau Anggrek.

Tinggi dan bentuk badan

Anjing Kintamani jantan mempunyai tinggi 45 cm-55 cm dan anjing betina 40 cm-45 cm. Dengan warna bulu kebanyakan berwarna putih spesifik (sedikit kemerahan) dengan warna merah kecoklatan (krem) pada ujung telinga, ekor dan bulu dibelakang paha. Warna lainnya adalah hitam mulus dan cokelat dengan moncong berwarna hitam (bangbungkem), pigmentasi kulit, hidung, bibir kelopak mata, skrotum, anus dan telapak kaki berwarna hitam atau cokelat gelap.

Lehernya tampak anggun dengan panjang sedang, kuat dengan perototan yang kuat pula. Dada dalam dan lebar, punggung datar, panjangnya sedang dengan otot yang baik. Badan anjing betina relatif lebih panjang dari jantan. Anjing Kintamani (Bali) memiliki bulu krah (badong) panjang berbentuk kipas di daerah bahu (gumba),makin panjang bulu badong makin baik.

Kaki agak panjang, kuat dan lurus jika dilihat dan depan atau belakang. Tumit tanpa tajir, gerakan kaki ringan. Ekor bulunya bersurai, posisinya tegak membentuk sudut 45 derajat atau sedikit melengkung tetapi tidak jatuh atau melingkar di atas pinggang atau jatuh ke samping. Makin panjang bulu ekor makin baik .

Anjing Kita
(dari beberapa sumber)



{April 25, 2007}   Harimau berinduk Anjing

harimau-dan-anjing.jpgDua ekor anak harimau yang ditolak induknya karena lahir albino menemukan ibu baru, seekor anjing. Dua anak harimau ini hidup rukun dengan saudara barunya anjing dan menyusu di induk barunya.

Seekor anjing di Brasil mengasuh dua anak harimau bengali. Ini bukan kisah fiksi. Dokter hewan di Rio de Janeiro, tak lama berselang, mengatakan ini adalah kasus kesekian anjing betin mengasuh hewan lain. Menurut dokter hewan, anjing memang dapat mengasuh hewan jenis lain karena tidak dapat membedakan anak yang diaasuh.

Saat ini, anjing dan dua anak harimau itu hidup rukun dan tidak terpisahkan. Dua anak harimau itu menyusu bersama anjing yang baru dilahirkan induk anjing.

Dua anak harimau bengali itu ditolak induknya karena lahir albino. Saudara dua anak harimau ini bahkan telah dimakan induknya. Kini, kedua anak harimau ini memiliki induk baru dan saudara baru
(Liputan6.com)



{April 9, 2007}   Gajah Mengamuk

gajah.jpgSeekor gajah yang akan digunakan dalam sebuah pertandingan polo di Srilanka mengamuk di dalam lapangan, baru-baru ini. Upaya menenangkan hewan ini memakan waktu cukup lama bahkan sebuah mobil sempat dirusak oleh hewan ini.Gajah berbobot empat ton ini mengamuk dan menolak ditunggangi. Ia sempat melemparkan sadel dipunggungnya beserta warga Amerika Serikat yang menjadi jokinya. Gajah bernama Abey ini juga merusak mobil tim polo Spanyol.

Upaya para pawang menenangkan Abey memakan waktu lama. Akhirnya seorang dokter hewan terpaksa menggunakan tembakan bius untuk menenangkannya. Salah seorang pakar gajah yang ada di lokasi menilai gajah ini mengamuk karena stres akibat merasa asing dengan lokasi dan gajah lain di sekitarnya.

Gajah mengamuk relatif bukan hal baru di Srilanka. Gajah liar di Srilanka yang berjumlah sekitar 4 ribu ekor kerap bentrok dengan warga di pedesaan yang menjaga pertanian atau kebun mereka dari serbuan gajah. Menurut data pemerintah Srilanka, tahun 2006 lalu sekitar 150 ekor gajah dibunuh. Sementara 50 orang mati terinjak atau dilempar oleh gajah yang memasuki desa untuk mencari makanan (liputan6.com)



et cetera